Sejarah Pemberantasan Tuberkulosis Sejak Era Kolonial

Penyakit Tuberkulosis telah lama dikenal dengan berbagai sebutan, seperti ”batuk darah”, ”batuk kering”, dan sebagainya.Bagi penderita tuberkulosis yang mampu, perawatan diberikan di tempat peristirahatan, yang dinamakan ”sanatorium”.

Sanotarium TosariTempat peristirahatan ini terletak di daerah pegunungan, dengan anggapan iklim pegunungan berpengaruh baik bagikesehatan penderita. Dari waktu ke waktu, banyak orang menganggap bahwa tuberkulosis bukan masalah penting bagi Indonesia, negeri yang bermandikan cahaya matahari dengan kehidupan alam terbuka.

Ternyata kenyataan berkata Tuberkulosis tetap menjadi masalah. Untuk itu di tahun 1917, dibentuk suatu panitia khusus, yang bertugas menyelidiki jumlah penduduk pribumi yang menderita penyakit tuberkulosis dan paru-paru.

Pada Oktober 1918, didirikan suatu badan swasta berbentukyayasan, yang mendapat bantuan tenaga dan keuangan dariPemerintah. Yayasan itu bernama ”Stichting der CentraleVereeniging tot Bestrijding der Tuberculose” (SCVT). Rencananya,yayasan ini akan mendirikan sanatoria, mengusahakanperawatan penderita di rumah, dan higiene sekolah sebagai upaya pemberantasan penyakit ini. Sampai dengan tahun 1930, belum ada langkah sistematis sebagai upaya pemberantasan tuberkulosis. Kegiatan mulai terlihat ketika SCVT mulai banyak mendirikan poliklinik penyakitparu di kota-kota besar.

Sistem penyebaran poliklinik (”Consultatie Bureau”) juga dilakukan sehingga mempermudah pencarian kontak penderita tuberkulosis, serta pengobatan difokuskan pada gejala(simtomatis) dan perbaikan gizi penderita.Sampai akhir penjajahan Belanda, telah tersebar poliklinik parudi 20 ibu kota karesidenan.

Aktivitas SCVT telah diambil alih oleh Pemerintah Indonesiasejak jaman Pemerintahan Jepang. SCVT ini kemudian dijadikansebagai Yayasan Perkumpulan Pusat Pemberantasan PenyakitParu-Paru (Yayasan P6), bertempat di Jakarta. Yayasan sejeniskemudian didirikan di beberapa kota di Jawa, seperti Jember, Semarang, dan Cirebon.

Pada tahun 1965, organisasi Departemen Kesehatan mengalamiperubahan mendasar, yaitu dengan dibentuknya beberapadirektorat jenderal (Ditjen) sebagai unit pelaksana teknis (UPT),yang sebelumnya tidak ada dalam struktur organisasiDepartemen Kesehatan.Untuk itu, Departemen Kesehatan membentuk DirektoratJenderal Krida Nirmala, yang artinya “upaya atau kerja untukmenghilangkan penyakit”, sebagai UPT bidang penyakit menular. Ditjen ini belakangan pada awal pemerintahan orde baru berganti nama menjadi Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pemberantasan PenyakitMenular (Ditjen P3M) mempunyai tugas pokok melaksanakansebagian tugas pokok Departemen Kesehatan di BidangPemberantasan Penyakit Bersumber Binatang, PemberantasanPenyakit Menular Langsung, Epidemiologi dan Imunisasi, sertaHigiene Sanitasi.

Pada era 1950, diketahui adanya vaksin yang dapat memberikankekebalan tubuh terhadap kuman penyakit penyebabtuberkolusis. Vaksin tersebut adalah vaksin BCG. Dengan adanyavaksin itu, pada Oktober 1952, Pemerintah Indonesia, WHO, danUNICEF menandatangani persetujuan untuk memulai programpercontohan dan latihan pemberantasan penyakit tuberkulosis.

Pada Juli 1953, diadakan konferensi pertama pemberantasanpenyakit paru-paru. Rekomendasi dari konferensi inidipergunakan sebagai sebagai dasar upaya pemberantasanpenyakit tuberkolosis paru-paru, dengan vaksinasi BCG sebagaisalah satu upaya preventif yang penting.

Pada Pelita I, fokus pemberantasan penyakit paru-paru adalahdengan menurunkan tuberkolusis incidente. Pemberantasandilakukan dengan cara pemberian suntikan BCG kepada semuaanak umur 0–14 tahun.Saat itu, vaksinasi mencakup sekitar 38 juta anak Indonesia.Daerah Jawa dan Bali berhasil mencapai 80% dari target,sedangkan daerah lainnya mencapai sekitar 51%.

Sumber : Sejarah Pemberantasan Penyakit Di Indonesia. Direktoral PP & PL Departemen Kesehatan RI, 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s